Jun
13
BIOGRAFI OSAMAH BIN LADEN
Juni 13, 2009 | | Leave a Comment
Nama : osamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin
Lahir : Jeddah, Arab Saudi, 28 Juni 1957
Jabatan : Pendiri Organisasi Paramiliter Fundamentalis Islam Sunni Al-Qaeda
Pendidikan : Lulusan Sarjana dalam bidang Ekonomi dan Manajemen Universitas King Abdul Aziz di Jeddah
Karir :
- Gerakan Konservatif Baru
- Dinas Kepolisian yang menegakkan hukum-hukum syariah
- Milisi Perang Kaum Pejuang Afganistan yang dikenal sebagai Kaum Mujahidin
- Bekerja pada perusahaan konstruksi dan bangunan milik keluarga, Group Perusahaan Bin Laden
- Mendirikan Gerakan Al Qaeda, sebuah organisasi para mantan pejuang Mujahidin dan para pendukung lainnya yang membantu menyalurkan baik dana maupun para pejuang
Jun
13
ALIRAN MUTAZILLAH
Juni 13, 2009 | | Leave a Comment
Pada tahun 100H/718M telah muncul aliran baru dalam teologi islam yang disebut aliran Mu’tazilah yang dibidani oleh Washil bin Atho’ murid Hasan al-Bashri.
Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliyah dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam.
Selain nama Mu’tazilah, pengikut aliran ini juga sering disebut kelompok Ahlut-Tauhid, kelompok Ahlul ‘adil, dan lain-lain.
Sementara pihak modern yang berseberangan dengan mereka menyebut golongan ini dengan free act, karena mereka menganut prinsip bebas berkehendak dan berbuat.
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murji’ah berkenaan soal orang mukmin yang berdosa besar.
Menurut aliran Khawarij, mereka tidak dapat dikatakan sebagai mukmin lagi, melainkan sudah menjadi kafir.
Sementara itu kaum Murji’ah tetap menganggap orang mukmin yang berdosa besar itu sebagai mukmin, bukan kafir. Menghadapi dua pendapat yang kontroversial ini, Washil bin Atho’ yang ketika itu menjadi murid Hasan al Basri, seorang ulama terkenal di Basra, mendahului gurunya mengeluarkan pendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Tegasnya orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi diantara keduanya.
Oleh karena diakhirat nanti tidak ada tempat diantara surga dan neraka, maka orang itu dimasukkan kedalam neraka, tetapi siksaan yang diperolehnya lebih ringan daripada siksaan orang kafir. Demikianlah pendapat Washil bin Atho’, yang kemudian menjadi salah satu doktrin Mu’tazilah, yakni Al-manzilah baina al-manzilataini (posisi diatara dua posisi).
Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati umat Islam, khususnya dikalangan mesyarakat awam kerena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bersifat rasional dan filosofis itu. Alasan lain adalah kaum Mu’tazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunah Rasulullah SAW. dan para shahabatnya.
Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan intelektual, pada masa pemerintahan khlalifah al-Ma’mun, penguasa Abbasiah periode 198-218 H./813-833 M. kedudukan Mu’tazilah menjadi semakin kokoh setelah al- Ma’mun menyatakannya sebagai madzhab resmi negara. Hal ini desebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.
Dalam fase kejayaannya itu, Mu’tazilah sebagai golongan yang mendapat dukungan penguasa memakasakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham Khalqu al-Qur’an.
Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Qur’an itu makhuk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak qadim.
Jika al Qur an itu dikatakan qadim maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya musyrik.
Khalifah Al-Ma’mun menginstruksikan supaya dilaksanakan pengujian (Fit and and Proper Test) terhadap aparat pemerintahan tentang keyakinan mereka akan paham ini.
Menurut al-Ma’mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa al-Qur ‘an adalah qadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting didalam pemerintahan, terutama dalam jabatan Qadli.
Dalam pelaksanaannya, bukan hanya para aparat pemerintahan yang diperiksa, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat.
Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemeritahan yang disiksa, diantaranya adalah Imam Hambali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mu’tazilah, seperti al-Khuzza’i dan al Buwaythi.
Peristiwa ini sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al-Mutawakkil berkuasa pada masa 232-247 H./846-861 M. menggantikan al-Wasiq, Khalifah pada masa 228-232 H./843-846 M.
Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah.
Selama berabad-abad kemudian Mu’tazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini adalah buku-buku mereka tidak lagi dibaca dan dipelajari di perguruan-perguruan Islam.
Sebaliknya, pengetahuan tentang paham-paham mereka hanya didapati pada buku-buku lawannya, seperti buku-buku yang ditulis oleh pemuka asy’ariyah. Namun sejak awal abad ke-20 berbagai karya Mu’tazilah ditemukan kembali dan dipelajari diberbagai perguruan Islam, seperti di Al-Azhar.
Oleh : Panji Laras
Jun
7
ILMU DAN IBADAH
Juni 7, 2009 | | Leave a Comment
PERBANDINGAN ANTARA ILMU DAN IBADAH
Lebih baik manakah orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan ,atau orang yang ahli dalam ibadah?Lebih baik manakah bila keduanya dibandingkan di dalam sisi kehidupan dan sisi agama?Menurut apa yang saya pelajari ,cukuplah orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan itu lebih baik dibanding dengan orang yang ahli dalam ilmu ibadah ,dalam sisi kehidupan orang yang berilmu itu bisa lebih sukses dibandingkan dengan ahli ibadah yang tidak berilmu ,dan dalam sisi agama juga orang yang berilmu itu lebih baik daripada ahli ibadah yang tidak berilmu ,seperti apa yang disabda oleh RASULULLAH SAW : ”Kelebihan alim terhadap abid (orang yang beribadah tetapi tidak pandai) adalah seperti kelebihanku terhadap orang yang paling rendah diantara kamu sekalian” (Riwayat tarmidzi) .dan RASULULLAH SAW bersabda : ‘’sungguh satu bab ilmu yang dipelajari oleh seseorang itu lebih kucintai daripada menjalankan sholat sunnat seribu rakaat” (Riwayat al-bazzar dan tabrani).
Akan tetapi lebih sempurna lagi bila dikatakan yang berilmu itu harus disertai dengan ibadah karena ilmu tanpa ibadah bisa menjadikan sifat sombong ,jahat ,dan tanpa arah atau sesat ,ilmu itu bisa dikatakan bermata dua karena bisa menyelamatkan kamu dan bisa mencelakakan kamu ,kenapa?Apabila ilmu itu digunakan untuk dan dengan arah yang baik ,benar ,maka akan menyelamatkan kamu ,dan kalau ilmu itu digunakan untuk arah yang sebaliknya maka bisa menelan dan mencelakakan kamu.
Tetapi yang paling rendah derajatnya bukanlah orang yang ahli ibadah ,anda jangan salah paham karena orang yang paling rendah derajatnya adalah orang yang bukan ahli ibadah sekaligus tidak berilmu.
Mohon kritik dan saran apabila artikel ini mempunyai banyak kesalahan dan kekurangan.
Oleh : Panji Laras